Penerapan logistik hijau memberi keuntungan konkret dari sisi operasional. Komitmen terhadap keberlanjutan juga memperkuat citra perusahaan di mata customer maupun investor, karena semakin banyak pelaku usaha khususnya di sektor ekspor yang mempertimbangkan rekam jejak lingkungan mitra logistiknya sebelum menjalin kerja sama.
Dari sisi lingkungan, pengurangan emisi dan limbah transportasi membantu menekan risiko jangka panjang seperti pencemaran udara dan penipisan sumber daya, sekaligus menekan volume sampah kemasan di sepanjang rantai distribusi.
Penerapan logistik hijau di sektor transportasi jalan melibatkan banyak pihak dengan peran masing-masing seperti, produsen kendaraan yang mengembangkan armada rendah emisi, Kementerian Perhubungan yang menjalankan uji tipe dan uji emisi gas buang, KLHK yang menetapkan baku mutu emisi, Kementerian ESDM bersama Pertamina yang menyiapkan bahan bakar sesuai standar, serta kepolisian yang mengawasi kepatuhan di jalan. Standar emisi yang lebih ketat bukan hanya soal teknologi kendaraan, tapi juga soal ketersediaan bahan bakar yang sesuai dan pengawasan di lapangan.
Salah satu tantangan nyata logistik hijau di Indonesia adalah standar emisi kendaraan yang masih tertinggal dari negara tetangga. Peraturan Menteri LHK Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan standar Euro-4 secara bertahap seperti, kendaraan berbahan bakar bensin sejak Oktober 2018, sementara kendaraan diesel termasuk truk logistik baru menyusul pada 2022 setelah sempat tertunda akibat pandemi.
Dibandingkan negara ASEAN lain, Thailand sudah mengadopsi Euro-4 sejak 2012 dan bersiap ke Euro-6, Singapura sudah menerapkan Euro-6 sejak 2017, sementara Vietnam menetapkan standar Euro-5 pada awal 2022. Ketertinggalan ini berdampak langsung pada daya saing dagang ketika negara tujuan ekspor menetapkan standar emisi lebih tinggi dari yang dipenuhi kendaraan produksi dalam negeri, peluang perluasan pasar ikut tertahan.
Dengan begitu Selaras Logistics menetapkan sejumlah target menuju 2030, di antaranya penurunan emisi CO₂, peningkatan efisiensi bahan bakar, perluasan armada rendah emisi, pemanfaatan energi terbarukan untuk operasional gudang, penerapan sistem operasional tanpa kertas (paperless), sertifikasi ISO 14001 dan ISO 14064, penyediaan carbon dashboard bagi seluruh pelanggan, serta ambisi menjadi penyedia layanan Green Logistics dan Green Cold Chain terkemuka di Indonesia.
Sebagai langkah awal yang sudah berjalan, Selaras Logistics mulai menerapkan sejumlah teknologi pemantauan lingkungan operasional, seperti digital thermometer hygrometer untuk memantau kondisi suhu dan kelembapan secara akurat, serta air quality detector yang memantau kebersihan udara di dalam ruangan secara real time. Kedua perangkat ini membantu memastikan kualitas layanan tetap terjaga sekaligus menekan potensi pemborosan sumber daya dalam proses distribusi.
Transisi menuju logistik yang lebih hijau memang tidak instan, mulai dari peremajaan armada, efisiensi rute, hingga kolaborasi dengan mitra yang punya komitmen serupa. Namun setiap langkah kecil ke arah itu akan menentukan seberapa siap industri logistik Indonesia, termasuk Selaras Logistics di dalamnya, menghadapi standar global yang terus bergerak maju.
#selaraslogistics #greenlogistics #kemenhub #euro