Corporate Intelligence Base

Insights &
Perspectives.

Executive briefings, operational deep-dives, and strategic foresight driving Indonesia's premium supply chain network.

Featured
Insight

Manajemen Armada: Fondasi Efisiensi dan Keamanan Operasional Logistik

Armada truk merupakan salah satu aset paling vital dalam industri logistik. Aktivitas pengiriman yang melibatkan jarak jauh, jadwal ketat, serta beragam kondisi jalan membuat pengelolaan kendaraan operasional tidak bisa dilakukan asal-asalan. Tanpa sistem pengelolaan yang memadai, perusahaan berisiko menghadapi pemborosan biaya, keterlambatan pengiriman, hingga kerusakan kendaraan yang mengganggu kelancaran distribusi. Karena itu, penerapan manajemen armada menjadi langkah strategis bagi perusahaan logistik. Cakupannya bukan hanya soal kendaraan itu sendiri, melainkan juga pemantauan lokasi, pengawasan pengemudi, pengelolaan bahan bakar, hingga perawatan rutin armada secara menyeluruh. Salah satu komponen penting manajemen armada adalah kemampuan memantau keberadaan kendaraan secara akurat. Teknologi GPS tracker kini banyak dimanfaatkan untuk memonitor posisi kendaraan secara real-time, sehingga perusahaan bisa mengetahui progres pengiriman dan memperkirakan waktu kedatangan tanpa harus terus-menerus menghubungi pengemudi. Selain mendukung proses operasional, sistem pemantauan ini juga memberi perlindungan tambahan terhadap keamanan kendaraan. Jika terjadi penyimpangan rute, penggunaan kendaraan di luar jam operasional, atau indikasi pencurian, sistem dapat memberi peringatan dini kepada pengelola armada untuk mengambil tindakan lebih cepat. Selain kendaraan, faktor pengemudi turut menentukan keberhasilan operasional armada. Melalui sistem manajemen armada, perusahaan dapat memantau jam kerja, perilaku berkendara, hingga aktivitas yang berpotensi menimbulkan risiko. Kebiasaan seperti mengebut, mengerem mendadak, atau membiarkan mesin menyala terlalu lama saat berhenti dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar sekaligus mempercepat keausan komponen kendaraan, belum lagi risiko keselamatan dari aktivitas seperti menggunakan ponsel saat berkendara. Dengan pemantauan sistematis, perusahaan bisa mengidentifikasi perilaku berkendara yang kurang efisien dan memberikan evaluasi maupun pelatihan agar standar keselamatan tetap terjaga. Bahan bakar adalah salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional armada. Konsumsinya dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi kendaraan, rute perjalanan, hingga gaya berkendara. Selain faktor teknis, bahan bakar juga rentan terhadap praktik kecurangan seperti manipulasi laporan pembelian. Oleh karena itu, sistem pencatatan yang transparan dan terintegrasi menjadi kunci agar setiap penggunaan bahan bakar dapat dipantau dan dievaluasi secara akurat. Armada yang digunakan terus-menerus memiliki tingkat keausan lebih tinggi. Pendekatan perbaikan setelah kerusakan terjadi cenderung kurang efisien karena berisiko membuat kendaraan tiba-tiba tidak bisa digunakan. Sebagai gantinya, perawatan preventif, pemeriksaan, dan servis berkala sebelum kerusakan muncul membantu menjaga performa kendaraan sekaligus mengurangi risiko downtime dan memperpanjang usia pakai armada. Pengelolaan armada juga mencakup tanggung jawab terhadap keselamatan pengemudi, kendaraan, dan pengguna jalan lain, termasuk kepatuhan terhadap regulasi seperti kewajiban uji KIR setiap 6 bulan sekali. Sistem manajemen armada yang terintegrasi membantu memastikan jadwal perawatan dan kewajiban administrasi tidak terlewat. Selain itu, data seperti jarak tempuh, rute perjalanan, konsumsi bahan bakar, dan kinerja pengemudi perlu dikumpulkan dan dianalisis secara berkala. Laporan ini menjadi dasar evaluasi operasional, membantu perusahaan menemukan area yang perlu diperbaiki serta menentukan strategi yang lebih efisien ke depan. Manajemen armada bukan sekadar proses pengelolaan kendaraan, melainkan sistem strategis yang menopang efisiensi dan keberlanjutan operasional logistik secara keseluruhan. #selaraslogistics #manajemenarmada #industrilogistik #teknologi

Ad

Written By

Admin Ops

Cover
Press Release

Logistik B2B vs B2C: Kenali Perbedaannya Sebelum Menentukan Sistem Pengiriman

Setiap produk yang selesai diproduksi tetap membutuhkan proses distribusi agar sampai ke pihak yang membutuhkan. Namun, cara barang didistribusikan tidak selalu sama, tergantung pada model bisnis yang dijalankan. Dua model yang paling umum dikenal adalah B2B (Business to Business) dan B2C (Business to Consumer), keduanya sama-sama bertujuan memastikan barang sampai ke penerima, tapi memiliki karakteristik operasional yang jauh berbeda. Logistik B2B adalah aktivitas distribusi barang yang terjadi dalam hubungan bisnis antara satu perusahaan dengan perusahaan lain. Barang yang dikirim biasanya berjumlah besar, karena digunakan untuk kebutuhan operasional, produksi, distribusi ulang, atau dijual kembali oleh pihak penerima. Contoh sederhananya, sebuah produsen mengirim ratusan karton produk ke distributor di beberapa wilayah, yang kemudian menyimpan dan menyalurkannya ke toko atau pelanggan lain. Karena volume barangnya besar dan melibatkan koordinasi antarbisnis, proses logistik B2B menuntut perencanaan yang jauh lebih terstruktur. Berbeda dengan B2B, logistik B2C adalah proses distribusi barang dari perusahaan langsung ke konsumen akhir. Model ini berkembang pesat seiring meningkatnya aktivitas e-commerce, di mana pelanggan membeli produk melalui platform digital dan barang dikirim langsung ke alamat mereka. Pengiriman B2C biasanya memiliki jumlah barang per transaksi yang lebih kecil dibanding B2B, namun jumlah pesanan secara keseluruhan bisa jauh lebih besar dan tersebar di banyak alamat berbeda, inilah yang membuat pengelolaan logistik B2C memiliki tantangan tersendiri. Lima Perbedaan Utama B2B dan B2C: 1. Penerima Barang B2B biasanya mengirim ke perusahaan, distributor, toko, atau fasilitas produksi dengan lokasi penerimaan yang lebih terstruktur. B2C mengirim ke konsumen individu, yang bisa berada di rumah, apartemen, kantor, atau lokasi lain sesuai permintaan pelanggan. 2. Volume Pengiriman B2B cenderung menangani pengiriman dalam jumlah besar per transaksi — bisa puluhan hingga ratusan unit sekaligus. B2C memiliki volume per pesanan yang jauh lebih kecil, meski jumlah transaksinya bisa sangat tinggi. 3. Jumlah Titik Tujuan Pengiriman B2B umumnya memiliki jumlah tujuan yang lebih terbatas, namun tiap tujuan menerima muatan besar. Sebaliknya, B2C memiliki titik tujuan yang jauh lebih banyak dan tersebar di berbagai wilayah, sehingga membutuhkan sistem distribusi yang mampu menangani banyak alamat sekaligus. 4. Jadwal Pengiriman Pada B2B, jadwal pengiriman biasanya sudah disepakati antara pengirim dan penerima sesuai jadwal operasional masing-masing. Pada B2C, waktu pengiriman lebih bergantung pada pilihan layanan dan estimasi yang diberikan ke konsumen, dengan ekspektasi kecepatan yang cenderung tinggi. 5. Jenis Armada B2B umumnya menggunakan kendaraan berkapasitas besar karena volume barang yang diangkut cukup banyak. B2C lebih sering menggunakan kendaraan berkapasitas lebih kecil namun fleksibel, untuk mendistribusikan paket ke banyak alamat berbeda. Proses logistik B2B dimulai dari adanya pesanan dari perusahaan penerima. Setelah dikonfirmasi, barang dipersiapkan, diperiksa, dikemas, lalu dimuat ke kendaraan dengan perencanaan matang mengingat volumenya yang besar. Barang kemudian dikirim ke lokasi perusahaan penerima dan diperiksa berdasarkan dokumen pengiriman yang sudah disiapkan. Sementara itu, proses B2C dimulai saat konsumen melakukan pemesanan, dilanjutkan pengecekan pembayaran dan stok, pengambilan produk, pengemasan, hingga diserahkan ke penyedia layanan pengiriman. Selama perjalanan, pelanggan biasanya bisa memantau status pengiriman lewat sistem tracking, mengingat volume pesanan B2C yang tinggi, otomatisasi dan integrasi sistem menjadi krusial agar setiap pesanan diproses cepat dan akurat. Logistik B2B menghadapi tantangan seputar pengelolaan volume barang besar dan ketepatan waktu, keterlambatan satu pengiriman bisa mengganggu aktivitas operasional atau produksi perusahaan penerima. Sementara logistik B2C lebih banyak berhadapan dengan tantangan jumlah pesanan yang tinggi dan titik pengiriman yang tersebar, ditambah ekspektasi pelanggan yang tinggi terhadap kecepatan dan transparansi, serta kompleksitas seperti alamat tidak lengkap atau pelanggan yang tidak berada di lokasi saat pengiriman tiba. Sebuah perusahaan bisa saja memiliki pelanggan bisnis sekaligus konsumen langsung, misalnya produsen yang menjual dalam jumlah besar ke distributor, namun juga membuka penjualan langsung lewat website. Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu memiliki sistem logistik yang mampu menangani kedua karakteristik sekaligus, dengan pemisahan alur kerja yang jelas agar keduanya bisa dikelola secara efektif. Tidak ada sistem yang secara otomatis lebih unggul antara B2B dan B2C, keduanya membutuhkan pendekatan berbeda sesuai karakteristik bisnis masing-masing. #selaraslogistics #logistikindonesia #b2b #b2c

Cover
Insight

Kenapa Jakarta Butuh Hub Logistik yang Lebih dari Sekadar Gudang?

Jakarta menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan distribusi barang bagi penduduknya. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk DKI Jakarta pada pertengahan 2025 mencapai 10,68 juta jiwa. Namun, permintaan riil kota ini jauh lebih besar dari angka tersebut, mengingat Jakarta juga melayani kebutuhan pekerja komuter dari kawasan penyangga, serta menopang aktivitas bisnis, pemerintahan, perdagangan, perhotelan, restoran, dan layanan publik dalam skala besar. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai skala permintaan sebesar itu membutuhkan hub logistik yang fungsinya jauh lebih kompleks dari sekadar fasilitas penyimpanan barang. Fasilitas yang dibutuhkan Jakarta harus mampu menjalankan fungsi konsolidasi muatan, pengolahan pesanan, cross-docking, rantai dingin, hingga distribusi cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan, barang konsumsi, produk industri, farmasi, sampai perdagangan elektronik yang terus bertumbuh. Di antara wilayah Jakarta, Jakarta Utara dinilai sebagai lokasi yang paling strategis untuk pengembangan hub logistik. Wilayah ini menghubungkan langsung Pelabuhan Tanjung Priok dengan jaringan distribusi Jabodetabek maupun nasional, sekaligus memiliki basis penduduk sebesar 1,82 juta jiwa dengan aktivitas ekonomi yang besar. Data sementara BPS menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Utara atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp713,97 triliun. Dari angka tersebut, industri pengolahan menyumbang Rp207,88 triliun atau 29,12 %, perdagangan menyumbang Rp136,78 triliun atau 19,16 %, sementara transportasi dan pergudangan menyumbang Rp41,89 triliun atau 5,87 %. Ketiga sektor ini yang menjadi basis permintaan dan layanan logistik secara keseluruhan menyumbang 54,15 % terhadap PDRB Jakarta Utara. Yang menarik, sektor transportasi dan pergudangan di Jakarta Utara secara riil tumbuh 8,67 % pada 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut secara keseluruhan yang hanya 4,92 %. Kesenjangan pertumbuhan ini semakin menegaskan urgensi peningkatan kapasitas dan kualitas sistem logistik perkotaan di Jakarta Utara. Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Yuliantini, merekomendasikan pengembangan fasilitas dengan produktivitas lahan tinggi, mengingat Jakarta Utara menghadapi sejumlah kendala nyata seperti harga lahan yang mahal, keterbatasan ruang, kemacetan, hingga risiko banjir dan rob. Prioritas pengembangan yang disarankan mencakup urban consolidation center, cold-chain hub, fasilitas distribusi cepat, serta layanan logistik bernilai tambah yang terintegrasi secara digital. Pengembangan hub logistik semacam ini, menurutnya, perlu didukung oleh perencanaan tata ruang yang matang, konektivitas multimoda, pengaturan angkutan barang, mitigasi risiko lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusia logistik yang kompeten. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dinilai penting agar fasilitas yang dibangun benar-benar mendukung ketahanan pasokan, mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi warga Jakarta. Yuliantini juga menekankan pentingnya pemetaan yang matang sebelum pengembangan dilakukan, mulai dari permintaan siang dan malam hari, pola asal-tujuan barang, waktu tempuh, biaya distribusi, kebutuhan pengguna, hingga potensi investor. Pengembangan hub logistik disarankan berjalan bertahap, dengan komitmen dari pengguna utama serta target utilisasi dan efisiensi yang terukur, agar proyek tersebut layak secara komersial dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi Jakarta. Dinamika kebutuhan logistik perkotaan seperti ini menegaskan bahwa distribusi barang di kota besar seperti Jakarta membutuhkan pendekatan yang jauh lebih terintegrasi dibanding sekadar menambah kapasitas gudang. Tantangan ini menjadi pengingat pentingnya terus memperkuat kapabilitas konsolidasi muatan, layanan rantai dingin, dan distribusi cepat agar mampu menjawab kompleksitas kebutuhan logistik perkotaan yang terus berkembang, khususnya di kawasan-kawasan strategis. #selaraslogistics #hublogistik #logistikindonesia #badanpusatstatistik #supplychainindonesia

Cover
Insight

Prospek Sektor Transportasi dan Pergudangan Indonesia 2026: Tetap Tumbuh, Tapi Perlu Strategi Baru

Sektor transportasi dan pergudangan Indonesia terus menunjukkan performa yang menonjol dibanding sektor ekonomi lain, meski laju pertumbuhannya mulai melambat memasuki paruh kedua 2026. Data Badan Pusat Statistik mencatat sektor ini tumbuh 5,65 % secara tahunan pada kuartal II-2026, dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 6,16 %. Sebagai perbandingan, ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada periode yang sama tumbuh 5,29 %, menegaskan bahwa sektor logistik masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional. Performa sektor ini sebenarnya sudah menunjukkan tren kuat sejak 2025. Sepanjang tahun lalu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78 %, bahkan sempat menyentuh 8,98 % pada kuartal IV-2025. Capaian tertinggi di antara sektor-sektor utama perekonomian, didorong peningkatan mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjelang periode libur akhir tahun. Memasuki 2026, tren tersebut berlanjut meski dengan variasi angka tergantung sumber datanya. Pada kuartal I-2026, sektor ini tercatat tumbuh 8,04 %, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di 5,61 %. Supply Chain Indonesia (SCI) memproyeksikan kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB akan terus meningkat, dari 6,36 % pada 2025 menjadi 6,83 % pada 2026. Sementara itu, Bank Indonesia bahkan memproyeksikan sektor ini bisa tumbuh pada kisaran 10,8 % hingga 11,6 % sepanjang 2026, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan PDB tertinggi dibanding sektor ekonomi lain. Di balik tren positif ini, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai fluktuasi harga bahan bakar minyak yang cenderung tinggi, lemahnya daya beli masyarakat, serta terbatasnya ruang fiskal pemerintah daerah menjadi faktor yang menekan aktivitas transportasi dan logistik. Kondisi ini pada akhirnya berdampak langsung pada mobilitas orang dan barang, yang juga memengaruhi bisnis pergudangan secara keseluruhan. Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memandang pertumbuhan sektor ini sebagai momentum penting untuk mendorong reformasi struktural rantai pasok nasional. Pertumbuhan sektor semestinya diterjemahkan menjadi penurunan biaya logistik, peningkatan utilisasi infrastruktur, pengurangan waktu tempuh, serta peningkatan ketepatan waktu pengiriman, mengingat biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara dengan sistem rantai pasok yang lebih terintegrasi. Efisiensi logistik pada akhirnya menjadi salah satu faktor penentu daya saing produk Indonesia di pasar global, karena biaya transportasi, pergudangan, dan distribusi domestik ikut membentuk harga jual produk. CEO dan Founder Supply Chain Indonesia, Setijadi, menyoroti bahwa pertumbuhan sektor ini perlu dibaca bersamaan dengan perubahan permintaan, perdagangan, teknologi, dan kebijakan yang terus bergerak dinamis. Menurutnya, perusahaan logistik tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan volume dari sektor pelanggan yang selama ini menjadi andalan, melainkan perlu mendiversifikasi target pelanggan ke sektor-sektor yang lebih prospektif, seperti makanan dan minuman, ritel dan perdagangan elektronik, manufaktur, agribisnis, farmasi, hingga rantai dingin. Pemilihan sektor prioritas ini perlu mempertimbangkan ukuran dan pertumbuhan pasar, arus barang, tingkat persaingan, kebutuhan investasi, serta kesesuaian dengan jaringan yang sudah dimiliki. Dinamika pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan ini menegaskan bahwa peluang di industri logistik nasional masih terbuka lebar, namun menuntut strategi yang lebih adaptif dari pelaku usahanya. Bagi Selaras Logistics, momentum ini menjadi pengingat pentingnya terus memperkuat layanan multi-moda serta memperluas jangkauan ke sektor-sektor pelanggan yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, sembari tetap menjaga efisiensi biaya dan ketepatan waktu pengiriman sebagai fondasi utama daya saing. #selaraslogistics #sektortransportasi #sektorpergudangan #logistikindonesia

Cover
Insight

Momentum Tumbuh, Tapi Sektor Logistik Nasional Masih Menunggu Reformasi

Sektor transportasi dan pergudangan Indonesia mencatatkan performa yang menjanjikan pada 2026. Kontribusinya terhadap produk domestik bruto diperkirakan mencapai Rp1.703,21 triliun, tumbuh 9,31 % dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menegaskan posisi sektor logistik sebagai salah satu motor penggerak utama perekonomian nasional. Namun, di balik capaian tersebut, keberlanjutan momentum ini sangat bergantung pada langkah pemerintah ke depan, apakah mampu membenahi persoalan struktural yang selama ini menghambat efisiensi logistik, atau justru mengulangi pendekatan yang sama seperti sebelumnya. Kenaikan volume perdagangan domestik dan aktivitas ekspor-impor menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan sektor ini. Ekspansi e-commerce yang terus berlangsung juga menuntut rantai pasok yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan distribusi yang makin kompleks. Meski demikian, tantangan besar tetap membayangi. Kesenjangan infrastruktur antar wilayah, biaya logistik yang masih tergolong tinggi, serta ketergantungan yang besar pada moda transportasi darat membuat proses distribusi barang di Indonesia belum berjalan seoptimal yang diharapkan. Pendekatan kebijakan logistik selama ini dinilai terlalu berfokus pada pembangunan fisik seperti, jalan tol dan pelabuhan besar dibangun, namun tidak disamakan dengan sistem digital logistik yang terintegrasi. Akibatnya, proses distribusi barang tetap berjalan lambat karena data antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen belum saling terhubung. Koordinasi antar kementerian juga menjadi titik lemah. Kebijakan tarif, regulasi kontainer, hingga pengelolaan pelabuhan kerap berjalan tidak sinkron, yang pada akhirnya menimbulkan biaya tambahan bagi pelaku usaha logistik. Di sisi lain, aspek keberlanjutan hampir tidak tersentuh, transportasi logistik nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, tanpa insentif yang cukup untuk mendorong adopsi moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Untuk memastikan pertumbuhan sektor ini benar-benar berkelanjutan, ada empat agenda reformasi yang perlu ditempuh: - Digitalisasi Logistik Pembangunan platform logistik nasional berbasis Internet of Things (IoT) dan blockchain menjadi kunci untuk mengintegrasikan data secara real-time antara pelabuhan, gudang, dan transportasi darat. Transparansi rantai pasok serta pengawasan inventori yang lebih baik akan menjadi fondasi efisiensi ke depan. - Diversifikasi Moda Transportasi Perluasan jalur kereta barang antarkota besar serta revitalisasi konsep tol laut perlu benar-benar diarahkan untuk menekan biaya distribusi antarpulau, bukan sekadar menjadi simbol kebijakan tanpa dampak nyata di lapangan. - Kebijakan Keberlanjutan Insentif bagi kendaraan ramah lingkungan seperti truk listrik dan kapal rendah emisi perlu diperkuat, disertai penetapan standar emisi nasional yang wajib dipatuhi oleh perusahaan logistik. - Reformasi Regulasi Proses perizinan ekspor-impor perlu disederhanakan melalui sistem digital satu pintu, sekaligus dibarengi pembentukan badan logistik nasional lintas kementerian untuk menyelaraskan kebijakan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri di masing-masing instansi. Pertumbuhan 9,31 % menjadi bukti nyata bahwa sektor logistik terus bergerak sebagai motor ekonomi nasional. Namun, risiko tetap membayangi tanpa reformasi yang konkret, biaya logistik berpotensi tetap tinggi dan menggerus daya saing produk Indonesia di pasar global. Sebaliknya, jika digitalisasi dan kebijakan keberlanjutan benar-benar dijalankan secara konsisten, biaya logistik nasional diproyeksikan bisa ditekan hingga level yang jauh lebih kompetitif dalam lima tahun ke depan. #selaraslogistics #sektorlogistik #logistikindonesia #logistiknasional

Cover
Insight

Supply Chain Logistic: Fungsi dan Perannya dalam Kelancaran Distribusi Barang

Istilah "supply chain" dan "logistik" kerap dipakai bergantian, padahal keduanya memiliki cakupan yang berbeda meski saling melengkapi. Memahami perbedaan ini penting, terutama bagi pelaku usaha yang ingin memperkuat efisiensi rantai pasoknya secara menyeluruh. Supply chain management merujuk pada keseluruhan proses pembuatan dan pengiriman produk, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi, hingga distribusi ke tangan konsumen. Cakupannya luas, mencakup koordinasi antara seluruh pihak dalam jaringan distribusi mulai dari pembelian, produksi, transportasi, penyimpanan, hingga penjualan. Sementara itu, supply chain logistic memiliki fokus yang lebih spesifik: memastikan barang yang tepat sampai ke tempat tujuan pada waktu yang tepat. Aktivitas logistik menitikberatkan pada transportasi dan penyimpanan barang sepanjang rantai pasokan, sehingga menjadi bagian penting yang menopang kelancaran supply chain management secara keseluruhan. Perbedaan mendasar lainnya terletak pada orientasinya. Logistik berfokus pada pengiriman barang yang tepat waktu dan ekonomis, sementara supply chain management mencakup pula proses transformasi bahan mentah menjadi produk siap pasar. Meski berbeda fokus, keduanya memiliki tujuan yang sama: meningkatkan kepuasan pelanggan serta memperkuat kinerja perusahaan secara keseluruhan. Ada tiga fungsi inti yang menjadi tulang punggung operasional logistik: - Pengemasan Barang Pengemasan mencakup seluruh persiapan produk sebelum diangkut, baik untuk pengiriman ke pelanggan (forward logistics) maupun proses pengembalian barang (reverse logistics). Fungsi ini krusial karena kualitas pengemasan turut menentukan keberhasilan sebuah pengiriman — barang yang dikemas dengan baik lebih kecil risikonya mengalami kerusakan selama perjalanan. - Manajemen Inventori Manajemen inventori berkaitan dengan pengelolaan stok barang di gudang, termasuk pencatatan persediaan, pemantauan keamanan stok, hingga estimasi kebutuhan barang untuk pemesanan ulang. Fungsi ini membantu perusahaan menghindari kekurangan maupun kelebihan stok yang bisa mengganggu kelancaran distribusi. - Transportasi Transportasi menjadi fungsi logistik yang paling menentukan efektivitas keseluruhan rantai pasok. Bagaimana perusahaan menyusun dan mengelola sistem transportasinya akan sangat berpengaruh terhadap kecepatan dan efisiensi pengiriman barang ke tujuan akhir. Selain fungsi operasionalnya, logistik juga memegang peran strategis dalam menjaga kepuasan pelanggan: - Menyediakan Produk yang Tepat Penyedia jasa logistik perlu memastikan kapasitas pengiriman sesuai dengan kebutuhan barang yang diangkut, termasuk mempertimbangkan aspek transportasi, kebutuhan fasilitas gudang, hingga kepatuhan terhadap standar industri dan keselamatan. - Pengiriman pada Waktu yang Sesuai Ketepatan waktu pengiriman menjadi fondasi dasar bagi penyedia jasa logistik untuk tetap bertahan di tengah persaingan industri yang ketat. Semakin kompleks kebutuhan distribusi, semakin penting perencanaan waktu pengiriman yang matang. - Meminimalkan Kesalahan Pengiriman Ketika volume pengiriman meningkat, potensi kesalahan turut membesar. Perusahaan logistik yang mampu menjaga akurasi pengiriman di tengah tingginya volume order akan lebih mudah membangun loyalitas pelanggan dan membedakan diri dari kompetitor. Memahami fungsi dan peran supply chain logistic membantu perusahaan menentukan area mana yang perlu diperkuat, apakah dari sisi pengemasan, pengelolaan gudang, atau efisiensi transportasi. Ketiganya saling berkaitan; kelemahan pada satu fungsi bisa berdampak pada keseluruhan proses distribusi dan pada akhirnya memengaruhi kepuasan pelanggan. #selaraslogistics #supplychain #logistikindonesia #operasionallogistik

Cover
Press Release

Pemerintah Targetkan Penurunan Biaya Logistik Nasional

Peran sektor logistik semakin menjadi perhatian pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah dinamika ekonomi global, sistem logistik yang efisien dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kelancaran distribusi barang, meningkatkan konektivitas antarwilayah, serta memperkuat daya saing ekonomi nasional. Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyampaikan bahwa biaya logistik nasional saat ini masih berada pada kisaran 14% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menjadi fokus perbaikan melalui berbagai kebijakan yang bertujuan meningkatkan efisiensi distribusi dan memperkuat sistem logistik nasional. . Biaya logistik memiliki pengaruh langsung terhadap harga barang, kelancaran distribusi, hingga daya saing pelaku usaha. Semakin tinggi biaya logistik, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung produsen maupun konsumen. Oleh karena itu, pemerintah memiliki target penurunan biaya logistik secara bertahap. Diharapkan dapat menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan kompetitif dengan upaya-upaya meningkatkan integrasi sistem logistik nasional, memperkuat konektivitas antarwilayah, mempercepat digitalisasi layanan logistik, dan meningkatkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri. Meskipun industri logistik terus berkembang, terdapat tantangan-tantangan yang menuntut perusahaan logistik untuk terus beradaptasi melalui inovasi, efisiensi operasional, dan pemanfaatan teknologi. Beberapa tantangan tersebut antara lain, tingginya biaya distribusi, ketimpangan infrastruktur antarwilayah, proses logistik yang belum sepenuhnya terdigitalisasi, dan ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi biaya operasional. Upaya pemerintah dalam menurunkan biaya logistik merupakan langkah untuk meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia. Keberhasilan kebijakan tersebut tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga memerlukan kolaborasi aktif dari pelaku industri dalam menerapkan inovasi, digitalisasi, dan efisiensi operasional. . #selaraslogistics #biayalogistik #logistiknasional #kementrianperekonomian

Cover
Insight

Efisiensi Logistik Jadi Kunci Menjaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Data Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan, dengan sektor transportasi dan pergudangan mencatatkan pertumbuhan 8,04% melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Angka ini menegaskan satu hal yaitu, aktivitas logistik kini menjadi salah satu penggerak penting perekonomian, bukan sekadar aktivitas pendukung. Di balik capaian tersebut, Supply Chain Indonesia (SCI) mengingatkan bahwa pertumbuhan ini masih perlu diperkuat kualitasnya. Founder & CEO SCI, Setijadi, menilai bahwa penguatan aktivitas logistik perlu diikuti dengan efisiensi biaya, peningkatan produktivitas, integrasi antarmoda, serta percepatan digitalisasi rantai pasok agar pertumbuhan yang terjadi tidak sekadar bersifat musiman. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 masih banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari separuh PDB nasional. Sementara itu, ekspor barang dan jasa hanya tumbuh tipis, jauh tertinggal dari laju pertumbuhan impor. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa daya saing ekspor dan produktivitas industri nasional masih perlu diperkuat lebih jauh. SCI merekomendasikan agar pemerintah memperkuat konektivitas logistik dari sentra produksi menuju pasar dan pelabuhan, mempercepat digitalisasi layanan logistik, serta mendorong pembangunan pusat konsolidasi barang di luar Jawa. Hal ini penting mengingat struktur ekonomi nasional masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa, meski sejumlah wilayah timur Indonesia mencatat laju pertumbuhan yang lebih tinggi. Dari sisi perdagangan luar negeri, ekspor pada awal 2026 tumbuh tipis, bahkan sempat terkoreksi menjelang akhir triwulan. Sebaliknya, impor justru tumbuh jauh lebih tinggi, terutama didorong oleh kebutuhan bahan baku dan barang modal. Meski neraca dagang masih mencatatkan surplus, nilainya menyusut cukup signifikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan performa ekspor di beberapa sektor primer perlu diwaspadai agar tidak berkembang menjadi tren pelemahan jangka panjang. Di sisi lain, lonjakan impor bahan baku dan barang modal sebenarnya bisa menjadi sinyal positif jika diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi domestik, bukan sekadar menambah beban impor semata. SCI mendorong penguatan hilirisasi industri, diversifikasi pasar tujuan ekspor, konsolidasi muatan barang ekspor, efisiensi layanan pelabuhan, serta penyediaan layanan logistik ekspor yang lebih kompetitif. Kenaikan impor bahan baku dan barang modal perlu diarahkan secara strategis agar mampu memperdalam rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor dalam jangka menengah. Hal ini sebagai pengingat pentingnya terus memperkuat kapabilitas layanan multi moda dan konektivitas distribusi ke berbagai wilayah, termasuk di luar Jawa, guna mendukung pemerataan pertumbuhan ekonomi serta memperkuat daya saing rantai pasok nasional secara keseluruhan. #selaraslogistics #efisiensilogistik #pertumbuhanekonomiindonesia #badanpusatstatistik #sci

Cover
Insight

Target Baru Pemerintah, Biaya Logistik Nasional Turun ke 12% pada 2029

Pemerintah menetapkan terget untuk membenahi salah satu titik lemah daya saing nasional selama bertahun-tahun akibat mahalnya biaya logistik. Rasio biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di angka 14,29% yang ditargetkan akan turun menjadi 12% pada 2029, dengan target jangka panjang mencapai 8% pada 2045 setara dengan capaian negara-negara maju yang masih berada di kisaran 8-10%. Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, bahwa efisiensi logistik menjadi salah satu kunci utama memperkuat struktur biaya produksi nasional, sekaligus guna meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar domestik maupun internasional. Indonesia sebagai negara kepulauan menjadi salah satu penyebab utama tingginya biaya logistik. Selain itu, kesenjangan pemanfaatan teknologi produksi dibandingkan negara pesaing seperti Vietnam dan India juga memengaruhi daya saing harga pokok Indonesia di pasar global, bukan semata terkait ongkos distribusi, melainkan efisiensi produksi secara keseluruhan. Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) dari sisi komponen biaya mencatat bahwa transportasi darat masih mendominasi struktur biaya logistik nasional yang menyumbang sekitar 39-40% dari total biaya. Mahendra Rianto, Ketua Umum ALI menyebut hal ini terjadi karena pemanfaatan transportasi laut dan interkoneksi antarpulau yang belum optimal untuk negara kepulauan seperti Indonesia. Kemendag telah menerapkan sejumlah langkah strategis, salah satunya melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 92 Tahun 2020 terkait Perdagangan Antarpulau. Regulasi ini mendukung digitalisasi distribusi logistik, pelaku usaha cukup melakukan satu kali input data untuk semua proses pengiriman barang, mulai dari manifes muatan hingga instruksi pengapalan.Kemendag turut berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk memastikan integrasi antara transportasi darat dan laut, termasuk pengumpulan data muatan yang lebih akurat. Dengan integrasi ini, pergerakan barang antarpulau misalnya dari Sumatera ke Jawa dapat tercatat lengkap mulai dari jenis barang, jumlah, hingga tujuan pengirimannya. Penurunan biaya logistik bukan sekadar soal menekan pengeluaran perusahaan, melainkan fondasi untuk memperkuat daya saing produk lokal di pasar global, khususnya produk ekspor yang membutuhkan struktur biaya lebih kompetitif dibanding negara lain. Kombinasi antara perbaikan infrastruktur, digitalisasi rantai pasok, dan sinergi antarinstansi pemerintah dinilai menjadi strategi utama untuk mewujudkan target tersebut secara bertahap. Arah kebijakan ini menjadi sinyal penting bahwa efisiensi operasional mulai dari optimalisasi rute transportasi darat dan laut, pengelolaan gudang yang lebih baik, hingga adopsi sistem digital untuk administrasi akan semakin menentukan daya saing perusahaan logistik itu sendiri di tengah upaya besar pemerintah menekan biaya logistik nasional. #selaraslogistics #biayalogistiknasional #logistiknasional #produkdomestikbruto #kemendag

Cover
Career

Lowongan Supir Truck

Selaras Logistics mencari pengemudi handal yang siap tumbuh dan berkembang bersama kami. ​Kriteria Utama: - Memiliki SIM B1 Umum & Pengalaman Min. 1 Tahun (Reefer/Dry) - Paham navigasi (Google Maps) & pengkondisian suhu - Terbiasa kerja dengan target waktu/SLA - Domisili DKI, Jabar, Jateng, DIY, atau Jatim Scan QR Code untuk melamar sekarang juga!

Cover
Insight

Kemenhub Perjelas Batas JPT dan Angkutan Multimoda - Apa Dampaknya bagi Pelaku Logistik?

Tata kelola logistik nasional kembali mendapat perhatian serius dari pemerintah. Kementerian Perhubungan, melalui Direktorat Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, tengah mendorong harmonisasi regulasi antara dua jenis usaha yang selama ini kerap tumpang tindih perannya, yaitu Jasa Pengurusan Transportasi (JPT) dan Badan Usaha Angkutan Multimoda (BUAM). Langkah ini dibahas dalam Focus Group Discussion bertajuk Penguatan Tata Kelola Logistik Nasional dengan melibatkan berbagai direktorat di lingkungan Kemenhub serta pemangku kepentingan sektor logistik. Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, Risal Wasal, juga menyampaikan bahwa perubahan klasifikasi bidang usaha perlu diikuti penyelarasan aturan mulai dari pembinaan, perizinan, hingga pengawasan mengingat JPT dan angkutan multimoda memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi dalam mendukung kelancaran distribusi barang. Berdasarkan Peraturan Badan Pusat Statistik Nomor 7 Tahun 2025, kedua jenis usaha ini kini memiliki klasifikasi baku usaha yang berbeda, angkutan multimoda masuk kategori KBLI 52291, sementara JPT berada di KBLI 52311. Perbedaan mendasarnya terletak pada fungsi. JPT berperan sebagai penyedia jasa intermediasi, penghubung antara pemilik barang dengan penyedia layanan transportasi. Sementara itu, BUAM memikul tanggung jawab langsung mengangkut barang menggunakan sedikitnya dua moda transportasi dalam satu kontrak pengangkutan. Selain penataan klasifikasi, Kemenhub juga menyoroti pentingnya pengawasan yang tidak lagi berjalan sektoral. Mengingat rantai distribusi barang kerap melibatkan berbagai moda darat, laut, udara, hingga perkeretaapian. Pengawasan angkutan multimoda perlu melibatkan seluruh unsur moda tersebut secara terpadu, sehingga proses pengangkutan barang dapat dipantau menyeluruh dari titik awal hingga akhir. Ditjen Integrasi Transportasi dan Multimoda berencana memperkuat koordinasi antarinstansi, memperbaiki mekanisme pembinaan dan pengawasan, serta mendorong integrasi sistem layanan perizinan dan informasi. Pemerintah berharap langkah ini mampu menekan biaya logistik nasional, meningkatkan kualitas layanan distribusi, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia dalam jaringan logistik global. Bagi pelaku usaha logistik yang menangani distribusi, kejelasan regulasi semacam ini menjadi hal yang cukup dinanti. Batas yang lebih tegas antara peran intermediasi dan peran operator angkutan langsung akan membantu perusahaan logistik memastikan kepatuhan mereka terhadap ketentuan yang berlaku, sekaligus memperkuat kepastian hukum dalam menjalankan layanan multi-moda bagi klien. #selaraslogistics #kemenhub #jpt #angkutanmultimoda #buam #logistiknasional

Cover
Insight

Outlook Industri Logistik Indonesia 2026: Tumbuh di Atas Rata-Rata, Tapi Belum Bebas Tantangan

Sektor logistik Indonesia diprediksi masih akan menunjukkan performa yang solid sepanjang 2026. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, transportasi dan pergudangan diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus penanda bahwa logistik kini bukan lagi sekadar aktivitas kirim-mengirim barang, melainkan komponen strategis yang menentukan efisiensi rantai pasok dan daya saing dunia usaha. Menurut analisis Supply Chain Indonesia (SCI) atas data Badan Pusat Statistik, sektor transportasi dan pergudangan diproyeksikan menyumbang sekitar Rp1.703 triliun terhadap PDB nasional pada 2026, tumbuh sekitar 9,3% dibanding tahun sebelumnya yang melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Ada beberapa sektor yang menjadi penggerak utama. Industri pengolahan, khususnya makanan dan minuman, terus mencatat kenaikan permintaan baik di pasar domestik maupun ekspor. Selain itu, kebutuhan logistik dari sektor kimia, farmasi, elektronik, logam, tekstil, dan alat transportasi juga diperkirakan meningkat seiring aktivitas produksi yang menggeliat. Aktivitas perdagangan, baik domestik maupun lintas negara, turut menjadi pendorong utama yang mendorong kebutuhan distribusi barang yang makin cepat dan efisien. E-commerce menambah tekanan permintaan tersendiri, terutama pada layanan pengiriman last-mile dan fulfillment center, seiring konsumen yang makin mengutamakan kecepatan. Di luar sektor perkotaan, aktivitas pertanian, kehutanan, dan perikanan juga ikut mendorong kebutuhan transportasi barang serta fasilitas penyimpanan modern, termasuk cold storage untuk menjaga kualitas komoditas segar. Di balik proyeksi positif ini, sejumlah persoalan mendasar masih membayangi. Ketidakpastian ekonomi global mulai dari ketegangan geopolitik, perang dagang, hingga gangguan rantai pasok internasional tetap berpotensi menekan biaya logistik dan arus perdagangan dunia. Di dalam negeri, tantangan konektivitas infrastruktur, kecepatan pengiriman, serta sistem pelacakan barang masih jadi pekerjaan rumah. Berdasarkan Logistics Performance Index (LPI) 2023 yang dirilis Bank Dunia, Indonesia mencatat skor 3,0 dan menempati peringkat sekitar ke-61 dari 139 negara yang disurvei turun dibandingkan posisinya pada 2018. Meski berada di atas rata-rata negara berpendapatan menengah atas, posisi Indonesia masih tertinggal dari negara ASEAN lain seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, terutama pada aspek kualitas layanan logistik dan sistem tracking barang. Pemerintah terus mendorong transformasi sektor ini lewat pengembangan National Logistics Ecosystem (NLE), sebuah platform yang menyatukan layanan logistik dari hulu ke hilir agar proses distribusi lebih efisien, transparan, dan terkoordinasi. Pembangunan infrastruktur, jalan tol, pelabuhan, bandara, hingga jaringan kereta logistik juga terus berjalan untuk memperkuat konektivitas antar wilayah. Kombinasi digitalisasi dan pembangunan fisik ini diharapkan mampu mempercepat waktu distribusi, menekan biaya logistik nasional, dan meningkatkan kualitas layanan bagi pelaku usaha di berbagai skala. Pertumbuhan industri logistik yang positif membuka peluang sekaligus menuntut kesiapan lebih dari seluruh pelaku usaha di sektor ini. Untuk tetap kompetitif, perusahaan logistik perlu terus memperkuat efisiensi operasional, memanfaatkan teknologi secara maksimal, dan menghadirkan inovasi layanan yang relevan dengan kebutuhan klien yang terus berkembang. #selaraslogistics #industrilogistik #logistikindonesia #tantanganlogistik

Cover
Insight

Pos Indonesia Buka Akses Jaringan Nasional, Peluang Kolaborasi Baru bagi Pemain Logistik Swasta?

Salah satu langkah menarik dalam logistik nasional belakangan ini datang dari Pos Indonesia. Perusahaan ini menyatakan siap mengambil peran sebagai konsolidator jaringan logistik nasional yang menghubungkan berbagai pelaku industri melalui pemanfaatan infrastruktur bersama, integrasi teknologi, dan standarisasi layanan. Langkah ini merupakan respons terhadap Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permen Komdigi) Nomor 8 Tahun 2025 tentang Layanan Pos Komersial, yang mendorong terciptanya ekosistem logistik nasional yang lebih terintegrasi, terbuka, dan berkelanjutan. Melalui Executive Vice President Wholesale and International Business, Elan Pramudiansyah, Pos Indonesia menyampaikan niatnya untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan logistik swasta, penyedia layanan pihak ketiga (3PL), hingga pelaku e-commerce. Tujuannya untuk membangun jaringan distribusi yang lebih efisien dan saling terhubung, tanpa masing-masing pihak perlu membangun infrastruktur baru dari nol. Dalam praktiknya, skema ini memungkinkan perusahaan logistik dan pemilik barang memanfaatkan jaringan yang sudah dimiliki Pos Indonesia yang mencakup puluhan ribu titik layanan hingga menjangkau hampir seluruh kecamatan di Indonesia sebagai perpanjangan distribusi mereka sendiri. Langkah ini sejalan dengan amanat Permen Komdigi 8/2025 yang mendorong interkoneksi antarpenyelenggara pos, perluasan jangkauan layanan, standarisasi kualitas, serta penerapan tarif yang lebih sehat dan adil di industri. Konteks di balik kebijakan ini tidak lepas dari persoalan yang sudah lama dikenal, biaya logistik nasional yang masih tinggi, disparitas layanan antara Jawa dan luar Jawa, serta infrastruktur yang belum sepenuhnya termanfaatkan secara optimal. Dengan membuka akses jaringan yang sudah ada, potensi duplikasi infrastruktur antar pelaku bisa ditekan, sementara jangkauan distribusi ke wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau bisa diperluas lebih cepat. Bagi pelaku usaha logistik menengah, skema konsolidasi semacam ini membuka dua kemungkinan sekaligus. Di satu sisi, ini bisa menjadi peluang kolaborasi terutama untuk memperluas jangkauan distribusi ke wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) tanpa investasi infrastruktur besar. Di sisi lain, penguatan peran BUMN sebagai simpul utama jaringan logistik nasional juga berarti persaingan yang perlu terus diantisipasi oleh pemain swasta. Pada akhirnya, arah kebijakan seperti Permen Komdigi 8/2025 menunjukkan bahwa efisiensi logistik nasional ke depan akan makin bergantung pada seberapa baik seluruh pelaku industri, baik BUMN maupun swasta, bisa saling melengkapi alih-alih membangun infrastruktur yang tumpang tindih. #selaraslogistics #posindonesia #jaringannasional #logistikswasta

Cover
Insight

Surplus Dagang yang Rapuh: Kenapa Biaya Logistik Masih Jadi Titik Lemah Daya Saing Indonesia

Neraca perdagangan Indonesia kerap ditampilkan sebagai indikator kekuatan ekonomi nasional. Namun di balik angka surplus yang selama ini terlihat konsisten, ada satu persoalan struktural yang jarang disorot yaitu, mahalnya biaya memindahkan barang di dalam negeri. Berdasarkan perhitungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bersama BPS dan Bappenas, rasio biaya logistik nasional terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih berada di kisaran 14,29% jauh di atas rata-rata. Negara maju yang umumnya berkisar 8 - 10%. Dari angka tersebut, komponen transportasi menyumbang porsi terbesar 8,79 %, disusul pergudangan 3,19% dan biaya administrasi 2,30%. Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan rantai distribusi yang jauh lebih rumit dibanding negara dengan wilayah daratan yang menyatu. Kualitas infrastruktur yang belum merata antar wilayah, konektivitas antar moda transportasi yang belum optimal, serta proses logistik yang masih terfragmentasi turut memperbesar biaya operasional di setiap titik rantai pasok, bukan hanya di pelabuhan melainkan dari pengambilan barang hingga pengiriman akhir. Ketergantungan pada bahan baku impor juga memperparah tekanan ini. Ketika bahan baku harus melalui proses impor, penyimpanan, dan distribusi lewat sistem logistik yang mahal, biaya produksi ikut membengkak berlapis-lapis. Akibatnya, meski kualitas produk Indonesia bersaing di pasar global, ongkos untuk memindahkannya sering kali membuat pembeli internasional beralih ke pemasok lain yang lebih efisien. Fluktuasi harga energi menambah tekanan lain. Kenaikan harga bahan bakar langsung berimbas pada tarif angkutan darat, laut, hingga sewa gudang, sesuatu di negara kepulauan seperti Indonesia hampir selalu berujung pada naiknya biaya logistik secara keseluruhan. Fenomena ini menjelaskan kenapa surplus dagang Indonesia selama ini terkesan rapuh. Ketika volume ekspor melambat atau harga komoditas global tertekan, biaya distribusi yang tinggi membuat daya saing harga langsung terkoreksi, terutama untuk produk bernilai tambah rendah hingga menengah yang sangat sensitif terhadap ongkos angkut, waktu tempuh, dan kepastian layanan. Dengan kata lain, surplus yang selama ini terlihat solid sebagian besar masih ditopang oleh harga komoditas, bukan oleh efisiensi sistem logistik itu sendiri. Pada akhirnya, surplus dagang yang berkelanjutan tidak akan lahir dari angka-angka di atas kertas, melainkan dari pembenahan sistem logistik nasional secara menyeluruh sebagai fondasi daya saing, bukan sekadar catatan teknis di sektor transportasi. #selaraslogistics #greenlogistics #biayalogistik

Cover
Insight

Logistik Hijau: Tantangan Nasional dan Langkah Nyata Selaras Logistics Menghadapinya

Keberlanjutan kini menjadi pertimbangan yang tidak bisa lagi ditunda oleh pelaku industri logistik. Logistik hijau merupakan pendekatan yang menekan dampak lingkungan dan jejak karbon dari aktivitas distribusi barang, mulai dari penyimpanan, pengemasan, hingga pengangkutan. Penerapan logistik hijau memberi keuntungan konkret dari sisi operasional. Komitmen terhadap keberlanjutan juga memperkuat citra perusahaan di mata customer maupun investor, karena semakin banyak pelaku usaha khususnya di sektor ekspor yang mempertimbangkan rekam jejak lingkungan mitra logistiknya sebelum menjalin kerja sama. Dari sisi lingkungan, pengurangan emisi dan limbah transportasi membantu menekan risiko jangka panjang seperti pencemaran udara dan penipisan sumber daya, sekaligus menekan volume sampah kemasan di sepanjang rantai distribusi. Penerapan logistik hijau di sektor transportasi jalan melibatkan banyak pihak dengan peran masing-masing seperti, produsen kendaraan yang mengembangkan armada rendah emisi, Kementerian Perhubungan yang menjalankan uji tipe dan uji emisi gas buang, KLHK yang menetapkan baku mutu emisi, Kementerian ESDM bersama Pertamina yang menyiapkan bahan bakar sesuai standar, serta kepolisian yang mengawasi kepatuhan di jalan. Standar emisi yang lebih ketat bukan hanya soal teknologi kendaraan, tapi juga soal ketersediaan bahan bakar yang sesuai dan pengawasan di lapangan. Salah satu tantangan nyata logistik hijau di Indonesia adalah standar emisi kendaraan yang masih tertinggal dari negara tetangga. Peraturan Menteri LHK Nomor 20 Tahun 2017 mewajibkan standar Euro-4 secara bertahap seperti, kendaraan berbahan bakar bensin sejak Oktober 2018, sementara kendaraan diesel termasuk truk logistik baru menyusul pada 2022 setelah sempat tertunda akibat pandemi. Dibandingkan negara ASEAN lain, Thailand sudah mengadopsi Euro-4 sejak 2012 dan bersiap ke Euro-6, Singapura sudah menerapkan Euro-6 sejak 2017, sementara Vietnam menetapkan standar Euro-5 pada awal 2022. Ketertinggalan ini berdampak langsung pada daya saing dagang ketika negara tujuan ekspor menetapkan standar emisi lebih tinggi dari yang dipenuhi kendaraan produksi dalam negeri, peluang perluasan pasar ikut tertahan. Dengan begitu Selaras Logistics menetapkan sejumlah target menuju 2030, di antaranya penurunan emisi CO₂, peningkatan efisiensi bahan bakar, perluasan armada rendah emisi, pemanfaatan energi terbarukan untuk operasional gudang, penerapan sistem operasional tanpa kertas (paperless), sertifikasi ISO 14001 dan ISO 14064, penyediaan carbon dashboard bagi seluruh pelanggan, serta ambisi menjadi penyedia layanan Green Logistics dan Green Cold Chain terkemuka di Indonesia. Sebagai langkah awal yang sudah berjalan, Selaras Logistics mulai menerapkan sejumlah teknologi pemantauan lingkungan operasional, seperti digital thermometer hygrometer untuk memantau kondisi suhu dan kelembapan secara akurat, serta air quality detector yang memantau kebersihan udara di dalam ruangan secara real time. Kedua perangkat ini membantu memastikan kualitas layanan tetap terjaga sekaligus menekan potensi pemborosan sumber daya dalam proses distribusi. Transisi menuju logistik yang lebih hijau memang tidak instan, mulai dari peremajaan armada, efisiensi rute, hingga kolaborasi dengan mitra yang punya komitmen serupa. Namun setiap langkah kecil ke arah itu akan menentukan seberapa siap industri logistik Indonesia, termasuk Selaras Logistics di dalamnya, menghadapi standar global yang terus bergerak maju. #selaraslogistics #greenlogistics #kemenhub #euro

Cover
Career

We're Hiring Interns!

It’s time to start your career and gain hands-on experience in the industry with PT. Selaras Logistik Indonesia. Available positions: - Accounting - Social Media Specialist - Fleet Management - Sales & Marketing - Operation Grow, learn, and create with us! Scan the QR code now to apply or register through the link below: https://forms.gle/Nva1nSMY59CtxC29A #selaraslogistics #hiring #interns

Cover
Insight

Industri Makanan dan Minuman Diproyeksikan Tumbuh 7% pada 2026, Efisiensi Logistik Menjadi Faktor Penting

Industri makanan dan minuman (mamin) diperkirakan masih menunjukkan kinerja positif pada tahun 2026 dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 7%. Optimisme tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan pasar dan konsumsi masyarakat yang terus berkembang. Meski demikian, pelaku industri tetap menghadapi berbagai tantangan, terutama meningkatnya biaya energi dan logistik yang berpotensi mempengaruhi efisiensi operasional. Selain itu, kenaikan biaya distribusi, transportasi, hingga energi juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi agar daya saing industri tetap terjaga. Dalam kondisi tersebut, sistem logistik yang efisien memegang peranan penting dalam menjaga kelancaran rantai pasok. Pengelolaan distribusi yang tepat, pemanfaatan teknologi, serta perencanaan operasional yang baik dapat membantu perusahaan mengendalikan biaya sekaligus memastikan produk sampai ke tangan pelanggan secara tepat waktu. Bagi sektor logistik, kondisi ini menjadi peluang untuk menghadirkan layanan yang lebih adaptif dan inovatif. Efisiensi distribusi tidak hanya mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan daya saing bisnis secara keseluruhan. Sebagai bagian dari ekosistem logistik nasional, Selaras Logistics berkomitmen untuk terus menghadirkan solusi logistik yang efisien, andal, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Dengan dukungan operasional yang profesional dan pengembangan layanan yang berkelanjutan, kami siap mendukung pertumbuhan berbagai sektor industri di Indonesia. #selaraslogistik #industrimamin #logistikindonesia

Cover
Insight

Merger 7 BUMN Logistik: Langkah Strategis Menuju Sistem Logistik Nasional yang Lebih Efisien

Industri logistik Indonesia terus mengalami transformasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan daya saing nasional. Terdapat salah satu langkah terbaru yaitu konsolidasi tujuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor logistik yang diinisiasi oleh Danantara. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah guna menciptakan sistem logistik yang lebih terintegrasi, efisien, dan mampu menghadapi tantangan distribusi di masa depan. Berbagai perusahaan logistik BUMN juga menjalankan fungsi dan layanan yang saling berkaitan. Namun, keberadaan banyak entitas dengan proses bisnis yang terpisah berpotensi menimbulkan tumpang tindih operasional, biaya distribusi yang lebih tinggi, serta koordinasi yang kurang optimal. Melalui penggabungan tujuh perusahaan logistik ke dalam satu ekosistem, pemerintah berharap tercipta koordinasi yang lebih baik, proses bisnis yang lebih sederhana, serta pemanfaatan aset dan sumber daya yang lebih efisien. Hal tersebut tidak hanya bertujuan untuk menyederhanakan struktur organisasi, melainkan untuk membangun ekosistem logistik yang terintegrasi. Dengan sistem yang lebih terpadu, proses distribusi diharapkan menjadi lebih cepat, biaya operasional dapat ditekan, dan kualitas layanan kepada pelanggan semakin meningkat. Transformasi sektor logistik tetap memerlukan dukungan dari berbagai aspek, seperti percepatan digitalisasi proses logistik, peningkatan konektivitas antar wilayah, pengembangan infrastruktur distribusi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, kolaborasi yang kuat antara pemerintah, BUMN, dan pelaku industri. Dengan aspek-aspek tersebut, sistem logistik nasional diharapkan mampu menjadi lebih adaptif terhadap perubahan kondisi ekonomi dan dinamika perdagangan global. Perubahan ini menjadi momentum untuk terus meningkatkan kualitas layanan melalui inovasi, pemanfaatan teknologi, dan penguatan operasional agar mampu memberikan solusi logistik yang semakin efektif bagi pelanggan. Sebagai bagian dari ekosistem logistik Indonesia, Selaras Logistics terus berkomitmen menghadirkan layanan logistik yang profesional, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan pelanggan, sekaligus mendukung perkembangan industri logistik yang berkelanjutan. . #selaraslogistics #greenlogistics #transformasi #bumn

Cover
Career

We’re Hiring Interns!

We’re Hiring Interns! It’s time to start your career and gain hands-on experience in the industry with PT. Selaras Logistik Indonesia. ✨ Available positions: Accounting Social Media Specialist Fleet Management Sales & Marketing Grow, learn, and create with us! Scan the QR code now to apply or register through the link below: https://forms.gle/Nva1nSMY59CtxC29A