Namun, di balik capaian tersebut, keberlanjutan momentum ini sangat bergantung pada langkah pemerintah ke depan, apakah mampu membenahi persoalan struktural yang selama ini menghambat efisiensi logistik, atau justru mengulangi pendekatan yang sama seperti sebelumnya.
Kenaikan volume perdagangan domestik dan aktivitas ekspor-impor menjadi salah satu faktor utama pertumbuhan sektor ini. Ekspansi e-commerce yang terus berlangsung juga menuntut rantai pasok yang lebih efisien untuk memenuhi kebutuhan distribusi yang makin kompleks.
Meski demikian, tantangan besar tetap membayangi. Kesenjangan infrastruktur antar wilayah, biaya logistik yang masih tergolong tinggi, serta ketergantungan yang besar pada moda transportasi darat membuat proses distribusi barang di Indonesia belum berjalan seoptimal yang diharapkan.
Pendekatan kebijakan logistik selama ini dinilai terlalu berfokus pada pembangunan fisik seperti, jalan tol dan pelabuhan besar dibangun, namun tidak disamakan dengan sistem digital logistik yang terintegrasi. Akibatnya, proses distribusi barang tetap berjalan lambat karena data antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen belum saling terhubung.
Koordinasi antar kementerian juga menjadi titik lemah. Kebijakan tarif, regulasi kontainer, hingga pengelolaan pelabuhan kerap berjalan tidak sinkron, yang pada akhirnya menimbulkan biaya tambahan bagi pelaku usaha logistik. Di sisi lain, aspek keberlanjutan hampir tidak tersentuh, transportasi logistik nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, tanpa insentif yang cukup untuk mendorong adopsi moda transportasi yang lebih ramah lingkungan.
Untuk memastikan pertumbuhan sektor ini benar-benar berkelanjutan, ada empat agenda reformasi yang perlu ditempuh:
- Digitalisasi Logistik Pembangunan platform logistik nasional berbasis Internet of Things (IoT) dan blockchain menjadi kunci untuk mengintegrasikan data secara real-time antara pelabuhan, gudang, dan transportasi darat. Transparansi rantai pasok serta pengawasan inventori yang lebih baik akan menjadi fondasi efisiensi ke depan.
- Diversifikasi Moda Transportasi Perluasan jalur kereta barang antarkota besar serta revitalisasi konsep tol laut perlu benar-benar diarahkan untuk menekan biaya distribusi antarpulau, bukan sekadar menjadi simbol kebijakan tanpa dampak nyata di lapangan.
- Kebijakan Keberlanjutan Insentif bagi kendaraan ramah lingkungan seperti truk listrik dan kapal rendah emisi perlu diperkuat, disertai penetapan standar emisi nasional yang wajib dipatuhi oleh perusahaan logistik.
- Reformasi Regulasi Proses perizinan ekspor-impor perlu disederhanakan melalui sistem digital satu pintu, sekaligus dibarengi pembentukan badan logistik nasional lintas kementerian untuk menyelaraskan kebijakan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri di masing-masing instansi.
Pertumbuhan 9,31 % menjadi bukti nyata bahwa sektor logistik terus bergerak sebagai motor ekonomi nasional. Namun, risiko tetap membayangi tanpa reformasi yang konkret, biaya logistik berpotensi tetap tinggi dan menggerus daya saing produk Indonesia di pasar global. Sebaliknya, jika digitalisasi dan kebijakan keberlanjutan benar-benar dijalankan secara konsisten, biaya logistik nasional diproyeksikan bisa ditekan hingga level yang jauh lebih kompetitif dalam lima tahun ke depan.
#selaraslogistics #sektorlogistik #logistikindonesia #logistiknasional