Performa sektor ini sebenarnya sudah menunjukkan tren kuat sejak 2025. Sepanjang tahun lalu, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 8,78 %, bahkan sempat menyentuh 8,98 % pada kuartal IV-2025. Capaian tertinggi di antara sektor-sektor utama perekonomian, didorong peningkatan mobilitas masyarakat dan distribusi barang menjelang periode libur akhir tahun.
Memasuki 2026, tren tersebut berlanjut meski dengan variasi angka tergantung sumber datanya. Pada kuartal I-2026, sektor ini tercatat tumbuh 8,04 %, jauh di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di 5,61 %. Supply Chain Indonesia (SCI) memproyeksikan kontribusi sektor transportasi dan pergudangan terhadap PDB akan terus meningkat, dari 6,36 % pada 2025 menjadi 6,83 % pada 2026. Sementara itu, Bank Indonesia bahkan memproyeksikan sektor ini bisa tumbuh pada kisaran 10,8 % hingga 11,6 % sepanjang 2026, menjadikannya sektor dengan pertumbuhan PDB tertinggi dibanding sektor ekonomi lain.
Di balik tren positif ini, sejumlah tantangan tetap perlu diwaspadai. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai fluktuasi harga bahan bakar minyak yang cenderung tinggi, lemahnya daya beli masyarakat, serta terbatasnya ruang fiskal pemerintah daerah menjadi faktor yang menekan aktivitas transportasi dan logistik. Kondisi ini pada akhirnya berdampak langsung pada mobilitas orang dan barang, yang juga memengaruhi bisnis pergudangan secara keseluruhan.
Ikatan Ahli Rantai Suplai Indonesia (IARSI) memandang pertumbuhan sektor ini sebagai momentum penting untuk mendorong reformasi struktural rantai pasok nasional. Pertumbuhan sektor semestinya diterjemahkan menjadi penurunan biaya logistik, peningkatan utilisasi infrastruktur, pengurangan waktu tempuh, serta peningkatan ketepatan waktu pengiriman, mengingat biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibandingkan negara-negara dengan sistem rantai pasok yang lebih terintegrasi. Efisiensi logistik pada akhirnya menjadi salah satu faktor penentu daya saing produk Indonesia di pasar global, karena biaya transportasi, pergudangan, dan distribusi domestik ikut membentuk harga jual produk.
CEO dan Founder Supply Chain Indonesia, Setijadi, menyoroti bahwa pertumbuhan sektor ini perlu dibaca bersamaan dengan perubahan permintaan, perdagangan, teknologi, dan kebijakan yang terus bergerak dinamis. Menurutnya, perusahaan logistik tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan volume dari sektor pelanggan yang selama ini menjadi andalan, melainkan perlu mendiversifikasi target pelanggan ke sektor-sektor yang lebih prospektif, seperti makanan dan minuman, ritel dan perdagangan elektronik, manufaktur, agribisnis, farmasi, hingga rantai dingin. Pemilihan sektor prioritas ini perlu mempertimbangkan ukuran dan pertumbuhan pasar, arus barang, tingkat persaingan, kebutuhan investasi, serta kesesuaian dengan jaringan yang sudah dimiliki.
Dinamika pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan ini menegaskan bahwa peluang di industri logistik nasional masih terbuka lebar, namun menuntut strategi yang lebih adaptif dari pelaku usahanya. Bagi Selaras Logistics, momentum ini menjadi pengingat pentingnya terus memperkuat layanan multi-moda serta memperluas jangkauan ke sektor-sektor pelanggan yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, sembari tetap menjaga efisiensi biaya dan ketepatan waktu pengiriman sebagai fondasi utama daya saing.
#selaraslogistics #sektortransportasi #sektorpergudangan #logistikindonesia