Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, menilai skala permintaan sebesar itu membutuhkan hub logistik yang fungsinya jauh lebih kompleks dari sekadar fasilitas penyimpanan barang. Fasilitas yang dibutuhkan Jakarta harus mampu menjalankan fungsi konsolidasi muatan, pengolahan pesanan, cross-docking, rantai dingin, hingga distribusi cepat untuk memenuhi kebutuhan pangan, barang konsumsi, produk industri, farmasi, sampai perdagangan elektronik yang terus bertumbuh.
Di antara wilayah Jakarta, Jakarta Utara dinilai sebagai lokasi yang paling strategis untuk pengembangan hub logistik. Wilayah ini menghubungkan langsung Pelabuhan Tanjung Priok dengan jaringan distribusi Jabodetabek maupun nasional, sekaligus memiliki basis penduduk sebesar 1,82 juta jiwa dengan aktivitas ekonomi yang besar.
Data sementara BPS menunjukkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jakarta Utara atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai Rp713,97 triliun. Dari angka tersebut, industri pengolahan menyumbang Rp207,88 triliun atau 29,12 %, perdagangan menyumbang Rp136,78 triliun atau 19,16 %, sementara transportasi dan pergudangan menyumbang Rp41,89 triliun atau 5,87 %. Ketiga sektor ini yang menjadi basis permintaan dan layanan logistik secara keseluruhan menyumbang 54,15 % terhadap PDRB Jakarta Utara.
Yang menarik, sektor transportasi dan pergudangan di Jakarta Utara secara riil tumbuh 8,67 % pada 2025, jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi wilayah tersebut secara keseluruhan yang hanya 4,92 %. Kesenjangan pertumbuhan ini semakin menegaskan urgensi peningkatan kapasitas dan kualitas sistem logistik perkotaan di Jakarta Utara.
Rektor Institut Transportasi dan Logistik (ITL) Trisakti, Yuliantini, merekomendasikan pengembangan fasilitas dengan produktivitas lahan tinggi, mengingat Jakarta Utara menghadapi sejumlah kendala nyata seperti harga lahan yang mahal, keterbatasan ruang, kemacetan, hingga risiko banjir dan rob. Prioritas pengembangan yang disarankan mencakup urban consolidation center, cold-chain hub, fasilitas distribusi cepat, serta layanan logistik bernilai tambah yang terintegrasi secara digital.
Pengembangan hub logistik semacam ini, menurutnya, perlu didukung oleh perencanaan tata ruang yang matang, konektivitas multimoda, pengaturan angkutan barang, mitigasi risiko lingkungan, pemanfaatan teknologi, serta ketersediaan sumber daya manusia logistik yang kompeten. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dinilai penting agar fasilitas yang dibangun benar-benar mendukung ketahanan pasokan, mengurangi perjalanan kendaraan barang yang tidak efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi warga Jakarta.
Yuliantini juga menekankan pentingnya pemetaan yang matang sebelum pengembangan dilakukan, mulai dari permintaan siang dan malam hari, pola asal-tujuan barang, waktu tempuh, biaya distribusi, kebutuhan pengguna, hingga potensi investor. Pengembangan hub logistik disarankan berjalan bertahap, dengan komitmen dari pengguna utama serta target utilisasi dan efisiensi yang terukur, agar proyek tersebut layak secara komersial dan benar-benar memberi manfaat nyata bagi Jakarta.
Dinamika kebutuhan logistik perkotaan seperti ini menegaskan bahwa distribusi barang di kota besar seperti Jakarta membutuhkan pendekatan yang jauh lebih terintegrasi dibanding sekadar menambah kapasitas gudang. Tantangan ini menjadi pengingat pentingnya terus memperkuat kapabilitas konsolidasi muatan, layanan rantai dingin, dan distribusi cepat agar mampu menjawab kompleksitas kebutuhan logistik perkotaan yang terus berkembang, khususnya di kawasan-kawasan strategis.
#selaraslogistics #hublogistik #logistikindonesia #badanpusatstatistik #supplychainindonesia